You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Poto
Desa Poto

Kec. Moyo Hilir, Kab. Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat

BANGKIT BERSAMA MENUJU DESA MANDIRI DAN RELIGIUS

FUNGSI DAN MAKNA SADEKA PONAN BAGI MASYARAKAT

Administrator 20 Februari 2023 Dibaca 40 Kali

FUNGSI

            Manusia diciptakan sebagai bagian dari alam semesta. Kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, keselarasan, keserasian, kemajuan dan keberadaannya sangat ditentukan oleh cara dan strategi bagaimana mereka berinteraksi dengan alam sekitarnya. Interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya dalam rangka mempertahankan ekosistemnya serta meningkatkan kwalitas hidupnya mengharuskan manusia mengembangkan sistem pengetahuan dan teknologi. Sistem pengetahuan dan teknolgi yang diciptakan tentunya berbasis pada masyarakat pada petani tradisional adalah sistem pertanian yang didasarkan pada pengamatan selama bertahun- tahun terhadap lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya . Masyarakat tradisional memiliki berbagai pengetahuan dan teknologi guna berinteraksi dengan alam sekitarnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, termasuk pengetahuan bercocok tanam , memelihara ternak dan konservasi terhadap segala jenis tanaman dan hewan.

            Jika interaksi antar manusia dengan alam sudah terwujudkan, tetapi interaksi antara manusia dengan manusia, dan interaksi antara manusia dengan leluhur dan Maha pencipta belum terpenuhi maka, pola ideal interaksi belum tercapai. Karena itu setiap perilaku manusia baik disengaja maupun tidak disengaja memiliki fungsi tertentu. Dalam melakukan suatu tindakan, manusia mempunyai suatu tujuan- tujuan tertentu yang dapat berguna bagi kelangsungan hidupnya baik untuk kepentingan individu maupun kepentingan komunitasnya. Teori fungsional - structural menyebutkan bahwa setiap pranata social yang terdiri atas bagian- bagian atau elemen – elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.Bahwa setiap tindakan manusia berfungsi untuk kelangsungan kehidupan mereka .Sekalipun interaksi tidak pernah tercapai dengan sempurna , namun secara fundamental akan tetap bergerak kearah equilibrium yang bersifat dinamis, sehingga pada akhirnya akan dicapai suatu consensus ( kesepakatan) diantara masyarakat.

            Walaupun manusia mempunyai kemampuan untuk memfungsikan kemampuannya semaksimal mungkin dalam berinterksi antara manusia dengan manusia, maka pengendalian social sangat diperlukan. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik antar anggota masyarakat. Pengendalian yang dimaksud diartikan sebagai proses yang baik direncanakan maupun yang tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak , membimbing atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai – nilai dan norma yang berlaku. Ajakan , bimbingan atau bahkan paksaan bisa dilakukan dari atas ( penguasa , pemerintah), maupun masyarakat terhadap pemerintah dan berlangsung antar masyarakat sendiri . Tujuan dari pengendalian itu sendiri adalah menjaga agar anggota masyarakat senantiasa dapat menyesuaikan dirinya pada norma- norma , nilai- nilai , aturan yang berlaku sesuai dengan kesepakatan.

            Upacara pesta ponan merupakan wadah kesepakatan untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat petani di desa Bekat mempunyai fungsi yang besar bagi kelangsungan hidup mereka

 

 

 

Fungsi penghormatan terhadap leluhur dan Maha pencipta

 

            Salah satu fungsi acara itu yang menunjukkan kearifan dalam perilaku masyarakat adalah untuk kepuasan psikologis. Dengan kata lain, melalui penyelenggaraan upacara pesta ponan menghendaki terwujudnya masyarakat desa Bekat selalu ingat terhadap leluhur ( tau loka ) dan selalu bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Maha pencipta. Akan tetapi masyarakat sangat sadar bahwa apa yang mereka mohon kapada Tuhan Yang Maha Esa sangat dibantu oleh para leluhur ( tau loka ) . Karena itu tidak mengherankan tempat penyelenggaraan upacara pesta ponan dipusatkan di makam Haji  Batu  yang berlokasi dibukit ponan. Dijadikan bukit sebagai pusat penyelenggaran upacara, karena diyakini oleh masyarakat bahwa roh- roh orang yang yang meninggal bersemayam di tempat- tempat yang tinggi, seperti bukit. Pandangan bahwa tempat yang tinggi sebagai tempat yang suci yang ditempati oleh para leluhur, nampaknya berlangsung sampai sekarang . Secara psikologis para peserta upacara akan lebih percaya diri, rasa aman, optimis akan keberhasilan panen, dan penyelesaian konflik. Karena itu pelaksanaan upacara harus dilaksanakan secara rutin dan bersungguh- sungguh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa upacara pesta ponan sebagai wadah kearifan lokal merupakan sarana yang dipakai oleh masyarakt desa Bekat sebagai salah satu bentuk perlindungan manusia untuk menghadapi hal hal yang penuh kepastian didunia ini, misalnya panen yang gagal disebabkan oleh hama tanaman, kekeringan dan sebagainya. Kegagalan seperti itulah yang membuat goncangan jiwa mereka, sehingga sering menimbulkan konflik antar petani. Jadi upacara itu berfungsi sebagai upaya pelestarian nilai budaya menurunkan rasa hormat kepada leluhur dan Tuhan.

            Sesunguhnya tradisi megalitik tidak semata mata hanya menghormati dan memuja roh nenek moyang, walaupun kultus terhadap nenek moyang terbukti sangat kuat dirasakan oleh masyarakat desa Bekat. Bagi masyarakat desa Bekat hal ini juga difungsikan secara praktis untuk perbaikan- perbaikan dalam kehidupan, seperti mengharapkan hasil panen yang lebih baik, terhindar dari bencana alam atau wabah penyakit, memperolh keberuntungan dan pengungkapan rasa syukur.

            Pentingnya penyelenggaraan upacara pesta ponan bagi masyarakat desa Bekat dikisahkan oleh seorang informan sebagai berikut :

“ Bagi kami sekeluarga dan juga keluarga lain di desa Poto , upacara pesta ponan merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus kami lakuakan. Dengan upacara tersebut kami bisa menghadap dan memberi hormat tidak hanya kepada Allah , tetapi juga para pendiri kampung ini. Bagi saya dan keluarga, upacara ini memberikan jaminan akan berhasilnya panen di desa kami , karena kalau upacara ini tidak kami lakukan bisa dipastikan panen akan gagal. Setiap tahun upacara ini selalu kami adakan. Pernah kami tidak melakukan upacara ini dan memang panen kami jadi gagal. Upacara yang kami lakukan juga harus memperhatikan pantangan- pantangan yang tidak boleh dilanggar dalam penyelenggaraan upacara ini . Apa bila dilanggar bisa dipastikan juga panen gagal. Dengan upacara setahun sekali , kami bisa menengok makam leluhur dan bersujud kepada Maha pencipta”.

            Dari penuturan informan diatas dapat dilihat betapa berartinya upacara pesta ponan bagi masyarakat desa Bekat. Mereka menganggap upacara pesta ponan sebagai suatu bagian dari hidup mereka. Dengan melalui media upacara pesta ponan mereka dapat menampilkan bentuk bentuk kearifan lokal yang berfungsi sebagai pengejawantahan culture core  ( inti kebudayaan ) . Karena itu tidak mengherankan, sekarang pesta ponan wajib diselenggarakan oleh semua penduduk desa Bekat. Pada saat pemerintahan Jepang di Sumbawa ( 1942- 1945 ) pesta ponan pernah tidak dilaksanakan. Karena semua laki- laki yang ada di desa Bekat tenaganya dikerahkan untuk kerja rodi membuat lapangan udara Brang Biji di kota Sumbawa Besar. Pada hal pemerintah Jepang sangat membutuhkan hasil bumi seperti hasil pertanian.

            Selain itu , pernah juga terjadi upacara pesta ponan yang diselenggarakan di dalam mesjid. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 70-an .Penyelenggaraan upacara pesta ponan di dalam masjid mengakibatkan tanaman padi menjadi merah, dan akhirnya rontok.

            Penyelenggaraan upacara Pesta Ponan di Bukit Ponan merupakan suatu kewajiban bagi bagi warga desa Bekat. Karena, kalau tidak dilaksanakan hal hal yang merugikan masyarakat akan terjadi, dan itu sangat tidak dikehendaki oleh masyarakat desa Bekat. Hal ini tentu dapat dimaklumi , karena masyarakat desa Bekat adalah masyarakat agraris yang menghandalkan kehidupan mereka dari hasil pertanian. Suatu kegagalan panen merupakan hal yang sangat berat yang harus mereka tanggung. Hidup mereka sangat tergantung dari hasil panen , panen gagal berarti kehidupan mereka akan terganggu, dan konflik tidak akan bisa diselesaikan, bahkan konflik akan bertambah. Jika tidak menyelenggarakan upacara, seolah olah ada yang kurang dalam hidup mereka dan itu secara keseluruhan mempengaruhi keseimbangan kehidupan makro kosmos ( jasatnya). Ketidakseimbangan makro kosmos akan berdampak pula pada keseimbangan mikrokosmos ( mahluk penghuni jagat raya )

            Dengan penyelenggaraan upacara Pesta Ponan masyarakat desa Poto dapat bekerja dengan tenang dan menghadapi masa depan dengan penuh kepastian, karena secara penuh sudah dapat mewujudakan kearifan lokal yaitu dengan menghormati leluhur ( tau loka ) dan Maha Pencipta. Secara logis- psikologis, pikiran yang tenang dapat membantu manusia bekerja dengan baik. Jika hasil pertanian sudah baik maka kebutuhan pokok dapat tercukupi dan itu berarti kelangsungan hidup harmonis dapat dicapai.Paling tidak dengan menyelenggarakan upacara di Bukit Ponan dapat mengurangi kecemasan dalam menghadapi hal hal yang tidak dapat dipahami oleh masyarakat desa Bekat. Selain itu dengan penyelenggaraan upacara pesta Ponan yang dianggap sebagai upacara keagamaan dapat membangkitkan kerekatan social, dari konflik konflik yang penyelesaiannya tidak terbatas diselesaikan oleh pelaku konflik. Akan tetapi dalam penyelesaiannya juga disaksikan oleh anggota masyarakat lainnya dan oleh para leluhur.

 

Fungsi Pengembangan Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang Berjiwa Sosial.

 

            Selain fungsi penghormatan terhadap leluhur (Tau Loka) dan Maha Pencipta, kearifan lokal yang terdapat dalam pesta Ponan, juga mempunyai fungsi social yang erat kaitannya dengan refleksi social masyarakat Bekat. Seperti halnya masyarakat Indonesia lainnya, warga Bekat merupakan masyarakat yang mengkonsepsikan dirinya untuk selalu mengutamakan:

  1. Selaras dengan rasa saling.
  2. 2. Ila’ (harga diri).

           Prinsip kerukunan bertujuan untuk memperhatikan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Keadaan semacam itu disebyut “rukun”. Rukun yang berarti berada dalam keadaan selaras, tenang, dan tenteram, tanpa perselisihan dan pertentangan, bersatu dalam maksud untuk saling membantu. Keadaan ideal seperti itu  yang diharapkan dapat dipertahankan dalam semua hubungan social, dalam keluarga, dalam rukun tetangga, di desa, dan dalam setiap kelompok menetap.

            Dalam pesta Ponan terdapat kearifan lokal berdasarkan konsep saling.

Pertama: Saling sakiki, yaitu saling membantu dalam suasana prihatin. Keprihatinan ketika membagi air di sawah, kekurangan bibit, kesulitan alat membajak di kalangan warga Bekat, adalah saat yang memerlukan konsep saling sakiki. Melalui rasa pamendi yang berarti sayang, cinta dan kasihan pada orang lain yang menderita atau kesusahan, tergerak hati setiap individu untuk saling sakiki mengatasi permasalahan yang timbul.

            Hal lain dari sikap pribadi orang Bekat adalah pribadi yang berserah diri kepada ketentuan Tuhan. Artinya, manusia merencanakan, mengusahakan secara maksimal, Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya. Meskipun tiada tercapai apa yang diinginkan, maka ia sabar dan selalu mensyukuri apa yang dia dapat dan terima.

Kedua : Saling sadu’ (Saling percaya). Saling percaya antar warga tiga dusun (Lengas, Poto dan Melili) sudah terjalin sedemikian dalam. Dalam mempertahankan saling sadu’ telah tertata oleh prinsip Ila’ (malu, harga diri), mirip Siri’ di masyarakat Bugis-Makasar. Dalam keseharian, saling sadu ini begitu kuat sehingga terwujud dalam lawas Samawa :  mana tau barang kayu, lamin to’ sanyaman ate, banansi sanak parana; artinya walau siapapun itu, kalau mampu menenteramkan dan membahagiakan hati, dia itulah saudaramu.

Saling sadu ini tumbuh dalam pergaulan, persahabatan, terutama dalam membangun hubungan antar sesama sanak saudara sesama Tau Samawa, maupun antar Tau Samawa (Bekat) dengan orang luar daerah (etnis lain).

        Dalam kehidupan orang Sumbawa umumnya, termasuk orang Bekat, Ila’ dapat diartikan sebagai harga diri. Mereka merasa terhina sekali bila disebut orang nonda ila’ (tidak merasa malu). Pina Ila’ (malu-lah) bisa menjadi pendorong untuk melenyapkan, mengasingkan, mengusir dan sebagainya terhadap siapa saja bagi yang sudah tidak dipercaya. Namun sebaliknya bisa juga pina ila menjadi pendorong motivasi untuk berkreasi ke arah pembangkit tenaga, membanting tulang, bekerja giat untuk suatu usaha positif.

Ketiga: Saling satingi  (saling menghormati). Tamu adalah raja, sudah menjadi sikap keseharian yang sangat pas dan proporsional diamalkan oleh orang Bekat. Mereka penuh rasa toleransi dan kompromi dalam menempatkan tamu pada tempat yang semestinya.Artinya, mereka tidak melihat tamunya dari segi pangkat, jabatan dan kedudukan, tetapi tamu dilihat dari sisi manusianya. Dalam hal ini mereka tidak akan kikuk dengan kesederahanaannya, walau menerima tamu seorang raja sekalipun. Mereka akan melayani semampu apa yang memang mampu mereka siapkan.

Sikap ini menurut pemuka adat di Poto (pak Wahab Zakariah) mungkin terbentuk oleh karena daerah Bekat secara tradisional merupakan tempat domisili Dea Gamal dan Dea Dasin, (jabatan adat dalam struktur kesultanan Sumbawa) yang notabene adalah keluarga “Haji Batu” selalu dihargai dan dihormati. Timbal balik antara siapa menghormati akan dihargai dan dihormati antar sesama terselip kuat dalam sanubari orang Bekat. Siapa memberi penghargaan pasti akan dihargai juga oleh orang. Tidak sombong dan angkuh, selalu rendah hati. Bahkan kepada orang miskin papa maupun pangkat dan derajat social rendah pun mereka tempatkan secara manusiawi. Bila bertamu ke Bekat, ia adalah raja.

Sebagai ilustrasi, ketika zaman kerajaan dahulu, titah raja kepada para menterinya belum akan turun sebelum mendapat restu dari orang Bekat lewat Dea Dasin dan dea Gamal. Dan bahkan dalam kesehariannya, raja biasa turun dan menginap di Bekat, sehingga lahir anggapan bahwa bila orang Bekat kelaparan, maka Sumbawa umumnya kelaparan dan bila orang Bekat makmur, maka seluruh Sumbawa akan makmur.

 

Keempat: Saling satotang, yaitu saling mengingatkan, saling menasihati, yang dalam bahasa agama disebut amar makruf nahi mungkar. Orang Bekat merasa berkewajiban menyampaikan kebenaran dan mengingatkan serta menasihati sesamanya bila ada tindakan dan perbuatan yang menjurus kepada hal-hal yang terlarang. Secara ikhlas mereka menyampaikannya kepada siapapun.

Karena itu masyarakat Bekat terintegrasi dalam suatu semangat kebersamaan. Wujud dari  ekspresi saling satotang adalah kesadaran diri seorang individu diantara komunitasnya bahwa ia adalah sama di mata Tuhan. Yang akan membedakan nantinya adalah tingkat keimanan dan ketaqwaannya saja.

        Dalam puncak acara di pesta Ponan, tidak ada lagi seorang pejabat pemerintah, guru, tentara maupun petani. Semua mereka akan bersimpuh dan bersila di atas tanah beralaskan rumput, daun, sandal bahkan batu. Doa khusus yang mereka panjatkan bukan merupakan doa seorang pejabat, guru ataupun petani, tetapi doa seorang anak manusia yang memasrahkan dirinya kepada MahaPencipta, Tuhan Maha Kuasa.

Inti saling satotang, adalah saling mengingatkan untuk mampu mewujudkan keharmonisan antar sesama, lingkungan dan Maha Pencipta. Dengan makan yang sama, bentuk dan bahanyang sama, mereka seolah-olah ingin menyatukan diri sebagai suatu komunitas. Dengan demikian, solidaritas social di antara mereka terbangun dalam pesta Ponan, yang akan menjiwai aktifitas social dalam kehidupan sehari-hari  masyarakat Bekat.

 

Fungsi konservasi dan pelestarian Sumber Daya Alam (SDA)

 

        Pesta Ponan syarat dengan fungsi konservasi dan peletarian SDA, karena pola-pola kehidupan dengan organisme lingkungan terlihat dengan jelas. Pengaruh lingkungan dan alam begitu kuat, sehingga pesta Ponan sendiri tidak akan mungkin dijadwalkan secara pasti kapan waktunya setiap tahun.

Kita lihat pola-pola adaptasi yang berinteraksi antara alam dengan budaya masyarakat Bekat:

 

 

  1. Waktu penyelenggaraan Upacara.

    Kegiatan pertanian mengharapkan hujan, walau pengairan tehnis sudah sedemikian maju dengan pembangunan waduk yang besar seperti di Batu Bulan. Bagaimanapun besarnya waduk kalau hujan tak ada, maka waduk akan kering.

Biasanya hujan di Sumbawa sudah mulai turun mulai bulan Nopember, Desember, Januari, Pebruari dan Maret. Paling banyak biasanya di bulan Maret sampai April.

Pada masa sebelum ada pengairan tehnis, pesta Ponan diadakan selalu di bulan April atau Mei.  Waktu itu masih menggunakan bibit lokal yang umurnya 5-6 bulan, musim tanam berakhir di bulan April. Mengikuti tingkat kemajuan dan kecepatan teknologi pertanian, waktu penyelenggaraan pesta Ponan semakin bergeser, mendekati pertengahan bulan Januari. Sedangkan  penyelenggaraan acara bulan Maret / April diperkirakan sudah berlangsung sejak lebih kurang 450 tahun yang lalu.

      Kondisi padi di saat baru ditanam, sangat memerlukan doa petani, sehingga ada anggapan bahwa di bulan itu merupakan semacam bulan suci bagi pertanian. Karena dianggap bulan suci pertanian, tak ada kegiatan sosial kemasyarakatan besar yang bisa dilakukan, seperti membangun rumah, perkawinan dan sebagainya.

      Hari baik dan saat-saat terbaik untuk,memulai membajak, tabur benih, dan menanam, sampai sekarang masih dipegang teguh oleh warga. Kapan hama tidak menyerang, dan kapan waktu yang membawa berkah, sangat dijaga dengan cermat. Karenanya mereka selalu saling mengingatkan.

 

  1. Pengaturan pola tanam.

            Pengaturan pola tanam tradisional dengan menanam varietas lokal didasarkan pada kondisi musim dan ekologi setempat. Menurut kepercayaan para petani jika akan mulai turun sawah, petani cukup melihat arah dan letak bintang Rangala Polak sambil juga menanyakan hari baik pada seseorang yang dipercaya mampu dalam bidang ini. Melalui tokoh adat masyarakat membuat aturan umum untuk mengatur berbagai hal terkait dengan pola tanam.

            Secara tradisional, petani tidak terus menerus menanam padi , tetapi digilir dengan tanaman palawija. Karenanya ada saat tanah pertanian istirahat dan melangsungkan berbagai siklus unsur hara secara alamiah.

            Pola tanam yang dijalankan oleh masyarakat Bekat mulai bulan November sebagai awal  musim penghujan yakni dengan menyiapkan pesemaian bibit padi. Bulan Desember sampai Januari pengolahan tanah dan musim tanam. Bulan Februari musim pemeliharaan dan bulan Maret padi sudah mulai berbuah. Bulan Juni sampai Juli dengan udara segar dan kering adalah musim memanen sebagai musim yang sangat menggembirakan .Selanjutnya petani bersiap- siap menghadapi musim kemarau dengan menanam kacang hijau atau kedelai .

            Dengan penerapan revolusi hijau yang dimulai dengan mengintrodusir varietas padi unggul seperti IR 5 dan IR 8 merupakan awal terjadinya berbagai masalah hama dan tergesernya berbagai jenis varietas padi lokal serta berubahnya pola tanam dengan frekwensi menanam padi dua kali bahkan tiga kali setahun atau lima kali dalam dua tahun.

 

  1. Memelihara Kesuburan Tanah

 

            Penggunaan pupuk kandang, pupuk hijau dan pemanfaatan jerami menjadi kebiasaan warga Bekat untuk mempertahankan kesuburan tanah dan tingkat produksi tatkala masih menanam varietas padi lokal. Namun, ketika warga Bekat beralih menggunakan varietas padi unggul yang berumur pendek dan tingkat produksi yang jauh lebih tinggi dibanding padi lokal, maka kebiasaan petani untuk memelihara kesuburan tanahnya berubah yakni dengan menggunakan pupuk buatan pabrik. Hal ini disebabkan oleh besarnya kebutuhan unsur hara (Nitrogen) yang dibutuhkan oleh varietas padi unggul yang tidak sebanding dengan kemampuan sistem tanah secara alami.

            Dengan kondisi demikian, warga Bekat sangat tergantung pada pupuk pabrik untuk menyuburkan tanah pertaniannya. Sementara akibatnya adalah penambahan biaya pengeluaran. Karena itu, perlu diberdayakan kembali penggunaan pupuk hijau, pupuk kandang dan jerami. Paling tidak, dipadukan dengan penggunaan pupuk pabrik.

 

  1. Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit Melalui Upacara

            Aktivitas pengendalian hama dan penyakit tanaman pertanian  warga Bekat  didahului oleh ritual adat (Upacara Pesta Ponan), yaitu untuk memohon kepada Sang Maha Pencipta agar tidak terjadi bencana hama dan penyakit pada tanaman pertanian mereka.

            Upacara Pesta Ponan diselenggarakan pada saat tanaman padi mulai bunting. Oleh warga Bekat, dengan diadakannya Upacara Pesta Ponan diharapkan hama dan penyakit tanaman yang telah, sedang maupun akan menghinggapi tanaman pertanian mereka agar diusir (bukan membunuh) oleh Sang Maha Pencipta. Karena bagaimanapun, hama dan penyakit  merupakan ciptaan Sang Maha Pencipta dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ekosistem alam ini. Keberadaannya pada batas populasi tertentu sesungguhnya sangat berguna untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam dan manusia.

            Biasanya, warga Bekat menyebarkan bungkus makanan/panganan yang disajikan pada Pesta Ponan ke sawah-sawah mereka. Pupuk hijau dari bungkus makanan/panganan itu diyakini oleh para petani sebagai simbol untuk menyuburkan tanah dan mengusir hama padi mereka.

 

Fungsi Pengendalian Sosial

 

            Para keturunan Haji Batu sangat menyadari bahwa mereka sebagai petani yang berada di daerah hilir tentunya akan menghadapi beberapa tantangan, misalnya dalam hal pembagian air untuk mengairi sawah, hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan ternak, hal-hal yang berkaitan dengan pemurnian ajaran Islam yang belum tentu sejalan dengan adat istiadat budaya setempat dan perebutan “kue” pembangunan serta tantangan –tantangan lainnya yang mungkin timbul di tengah masyarakat.

            Untuk mewujudkan masyarakat Bekat sebagai masyarakat yang steril dari konflik dan selalu dalam kondisi kebersamaan, Upacara Pesta Ponan dijadikan sebagai katup pengamannya. Karena dalam pelaksanaan Upacara Pesta di Bukit Ponan itu tidak saja dihadiri oleh warga masyarakat, baik keturunan Haji Batu maupun orang dari luar, namun juga disaksikan oleh para leluhur dan Sang Maha Pencipta.

            Warga Bekat pun menyadari bahwa mereka berasal dari satu keturunan. Perselisihan yang terjadi – jika mungkin ada – akan menjadi cair bahkan terlupakan dan damai dalam kekhusyukan bermunajat kehadirat Sang Maha Pencipta di Bukit Ponan. Persaudaraan akan semakin erat se-erat jalinan bomong yang membentuk topat, se-erat pupis mengikat patikal dan selekat lege-nya lepat. Komunikasi yang sempat tersendat – jika ada – akan menjadi begitu lancar dan manis diliputi suasana silaturrahmi warga Bekat di Bukit Ponan. Para ibu-ibu saling memberi sajian antar keluarga ketiga dusun, sekedar  saling “mencicipi” hasil buatan masing-masing. Di sana petikal, disini petikal  atau buras semuanya sejenis dan serupa saja; mengapa mesti mencicipi milik orang lain ? Dalam hal seperti itu merupakan wujud ekspresi dalam silaturrahmi warga. Bukan hanya fisik yang bertemu, tetapi juga hasil karya, cipta, rasa dan karsa.

 

 

MAKNA

 

         Untuk menangkap yang disebut makna kebudayaan, perlu diketahui lebih dahulu cara menafsir symbol  yang dipergunakan di setiap saat dan tempat dalamkehidupan masyarakat. Kearifan lokal yang terdapat dalam pesta Ponan merupakan makna kebudayaan masyarakat Bekat. Bagaimana masyarakat melihat, bertindak, merasa dan berfikir agar sesuai dengan nilai-nilai yang telah terserap dari nenek moyang maupun lingkungan terlihat di pesta Ponan dalam aspek-aspek berikut:

 

2.1. Makna Keagamaan dan Spiritual

 

          Makna spiritual berkenaan dengan kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang keberadaannya tidak dapat dilihat tetepi dapat dirasakan kehadirannya. Kepercayaan terhadap adanya Tuhan sebagai suatu Dzat yang lebih tinggi derajatnya daripada manusia telah ada semenjak manusia manyadari bahwa dirinya sangat kecil ketika berhadapan dengan fenomena alam sekitar. Dengan demikian timbul dalam pikiran manusia akan adanya “ makhluk” yang sangat berkuasa dalam kehidupan di bumi ini. Rasa takjub dan heran dari manusia terhadap hal-hal yang diluar akal pikiran manusia serta gejala – gejala alam yang tidak dapat dirasionalkan oleh akal manusia semakin mengukuhkan pemikiran pemikiran manusia akan adanya Dzat yang lebih tinggi dari manusia. Gejala-gejala ini mengakibatkan manusia menyandarkan dirinya kepada kekuasaan yang lebih tinggi.

            Upacara Pesta Ponan merupakan salah satu eadah kearifan lokal manusia untuk berhubungan dengan Dzatyang lebih tinggi tersebut yang didalam agama Islam dengan Allah. Allah Yang Maha Kuasa memelihara kehidupan manusaia dan menentukan setiap tarikan nafas manusia. Sebagai “ Penguasa” atas diri manusia, Allah dapat didekati oleh manusia apabila manusia tersebut dengan tulus ikhlas berserah kepada Allah dan menyerahkan diri mereka dalam lindunganNya.

              Dalam tataran lain, Upacara Pesta Ponan juga merupakan salah satu wadah  ( selain wadah agama Islam ) pendorong semangat ( spirit ) masyarakat Desa Bekat dalam mengahadapi beratnya kehidupan di dunia ini. Dengan menyelengarakan Upacara Pesta Ponan, masyarakatmemiliki “ pengharapan” kan kehidupan yang baik di masa yang akan datang. Masyarakat yang telah bekerja keras mengusahakan pertanian mereka, memasrahkan apa yang telah mereka kerjakan ke hadirat Allah yang akan memberi berkah dan ridho-Nya. Dengan kata lain, masyarat memintakan berkah kepada Allah untuk bibit pada yang telah mereka tanam sehingga dapat tumbuh dengan baik dan nantinya dapat menghasilkan padi yang banyak dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Bekat. Dalam ini, terdapat suatu kepercayaan yang besar dari masyarakat Desa Poto terhadap eksistensi Allah Yang Maha Kuasa yang berkuasa atas hidup dan kehidupan mereka.

 

 

Makna Dalam Kehidupan Kesetiakawanan Sosial

 

            Upacara Pesta Ponan merefleksikan keinginan masyarakat Bekat akan suatu kehidupan yang sama rasa sama rata. Hal itu terlihat dari ritual upacara yang tidak mengisyratkan adanya perbedaan antara satu peserta dangan peserta lainnya. Secara ideal mereka menghendaki integritas dan sebaliknya mereka ingin menjauhi konflik, mengingat dari perspektif fungsional-struktural, konflik sering dianggap sebagai penyakit social.

            Pada saat upacara berlangsung, mereka sama-sama duduk di tikar dan memakan makanan kecil dengan cara yang sama pula. Semua itu merupakan symbol dari adanya jiwa sama rasa sama rata, sama tinggi sama rendah diantara masyarakat Bekat. Pada saat ini sesuai dengan perjalanan waktu, pemaknaan yang diberikan oleh masyarakat Bekat dalam suasana egalitarian seperti ini yaitu:

(1) Mengandung nilai motivasi yang mempu mendorong semangat pembangunan bagi seluruh warga masyarakt Bekat dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik dari hari ini.

(2) Mengandung nilai etos kerja yang tercermin dalam sikap tidak memilih-milih jenis pekerjaan, walaupun menjadi petani merupakan wahana pengabdian diri yang mulia terhadap keluarga, masyarakat dan negara seperti yang telah dititahkan oleh leluhur mereka.

(3) Mengandung nilai inspiratif untuk berbuat kebajikan dalam segi kehidupan masyarakat khususnya di bidang ekonomi agar tercipta nilai tambah.

(4) Mengandung nilai inofatif mau menerima perubahan dengan lapang dada dalam wujud peningkatan ilmu pengetahuan dan metode kerja/teknologi yang lebih baik dalam proses perolehan nilai tambah.

(5) Mengandung nilai aman, damai berkeadilan serta keaktifan dalam memutuskan sesuatu masalah berdasarkan azas demokrasi Pancasila dan azas kekeluargaan dengan mengutamakan masyarakat yang didasari mufakat.

(6) Mengandung nilai kebersamaan yang diwujudkan dalam sikap mau bergotong royong untuk membangun lingkungan fisik warga masyarakat.

            Makna egalitarian tersebut di atas akan mengatasi konflik-konflik internal yang terjadi selama masa musim tanam, sehingga masyarakat luluh dengan sendirinya dalam upacara tersebut. Silaturrahmi yang terputus akan bersambung kembali. Adanya pantangan untuk menyajikan makanan persembahan harus direbus (bukan digoreng dan dibakar) akan memberi makna bahwa minyak dan dibakar artinya api atau panas. Dari api atau panas ini akan mudah menimbulkan konflik. sedangkan makna direbus yang berkaitan dengan kegiatan pertanian artinya untuk memudahkan datang atau turunnya hujan. Jika persembahan dibakar, maka hujan akan menjauh bahkan tidak akan turun karena diusir oleh api pembakaran.

 

Makna dalam Keseimbangan antara Pelestarian Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA)

 

            Masyarakat Bekat meyakini bahwa Tuhan ada. Dia yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, baik yang dapat dilihat secara kasat mata maupun tidak, dilengkapi pula dengan kerangka eksistensi saling bertautan antara berbagai jenis, ragam, corak, ukuran, tingkat, bentuk dan rupa sifat dan watak/karakter ciptaan-Nya. Keseluruhan eksistensi alam semesta ini membentuk sebuah dinamika relasi saling butuh sebagai energi penggerak terjadinya interaksi saling memberi.

            Tidak sebuah gejala pun di alam semesta ini yang dapat menganggap eksistensinya berdiri sendiri terlepas dari gejala lain. Setiap sesuatu yang ada eksistensinya terjamin, tetapi ia selalu dan selamanya terikat sebagai bagian dari keseluruhan. Eksistensi manusia ditopang oleh makhluk lain dan lingkungan alamnya, dan oleh karena itu manusia harus menjalin kemitraan yang simbiosis mutualistik dengan keduanya. Dengan kata lain, bahwa masyarakat Bekat harus terus menerus memelihara dan melestarikan keseimbangan kedua lingkungan hidup tersebut. Paham ini mengisyaratkan adanya pengakuan bahwa antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungan hidupnya terjalin relasi saling tergantung.

            Dalam kaitannya dengan konservasi sumber daya, baik SDM maupun SDA, konsep-konsep kerangka eksistensi saling bertautan. Dinamika relasi saling butuh, interaksi saling memberi, holistic dan integralistik, memberi, diberi, telah terbukti mampu memelihara dan menjaga kelestarian antara SDA dan SDM. Masyarakat sadar akan arti penting makna dan fungsi konsep eksistensi dengan variannya itu, misalnya Saling adalah nilai utama dan model ideal bagi bangunan sebuah kepribadian.

            Kita kenal dalam masyarakat adanya konsep Siru atau Basiru yaitu saling menolong. Kearifan lokal masyarakat Bekat sehubungan dengan konservasi SDA terungkap dalam ungkapan: “Tonyong baseri, ai jarening, jangan kabau”  artinya “Teratai utuh dan berseri, airnya jernih, ikan tertangkap”. Ketika sebuah keputusan akan diambil, lebih dulu mempertimbangkan dampak yang mungkin menyertainya. Persiapan dan rencana yang baik menghasilkan keputusan yang baik pula dengan pelaksanaan yang tidak menimbulkan gejolak yang akan merugikan diri sendiri dan orang banyak.

 

Refleksi Kearifan Lokal di Bekat

 

            Mitos Haji Batu yang dijadikan dasar pelaksanaan Upacara Pesta Ponan oleh masyarakat Bekat, dalam perjalanan tradisinya, sering menghadapi sikap pro dan kontra dari para pendukungnya sendiri dan dari pihak pemerintah setempat. Kesakralan mitos Haji Batu sering dipertanyakan sehingga Upacara Pesta Ponan pun tidak luput mendapat keraguan masyarakat, termasuk kearifan lokal yang terdapat dalam upacara tersebut juga mengalami hal yang sama.

            Dalam kondisi seperti itu, menandakan bahwa ada segelintir masyarakat Bekat belum mampu membedakan yang sakral dan yang profan. Antara yang sakral dan yang profan secara konkrit memang tidak mempunyai perbedaan yang mendasar. Tetapi terletak pada sikap dan perasaan manusia yang meyakini keprofanan suatu benda disebabkan oleh karena dari suatu benda dapat terbentuk dua sikap dan perasaan yang berbeda.

            Biasanya sesuatu yang sakral ada kalanya tidak berbentuk pada benda-benda yang abstrak  seperti dewa-dewa, malaikat, roh-roh dan lain-lain. Yang sakral pada umumnya dijadikan obyek atau sarana penyembahan dari upacara-upacara keagamaan dan diabadikan dalm ajaran kepercayaan. Dalam ajaran kepercayaan inilah munculnya ritual (upacara). Oleh karena dibedakan oleh sikap dan perasaan masyarakat pendukungnya, maka yang sakral (the sacred) selalu berlainan yang belum tentu masyarakat lain memandang sama.

            Secara ideal dan normatif bahwa Upacara Pesta Ponan terbukti telah mengandung kearifan lokal (local wisdom, local genius, local knowledge) yang diantaranya adalah: (1) Merupakan sejarah suci menghormati leluhur (Tau Loka) dan Sang Maha Pencipta. (2) Merupakan daya aktif di dalam kehidupan masyarakat Bekat untuk membentuk SDM yang berkualitas, mengonservasi lingkungan alam, resolusi konflik, menjaga solidaritas.

            Sikap dan tindakan menghormati leluhur (Tau Loka) dan Sang Maha Pencipta bukan hanya sebatas dengan doa dan persembahan kue (tepung) di Bukit Ponan, melainkan juga merupakan ajang silaturrahmi antar warga Bekat dan antara warga Bekat dengan warga yang berada di kecamatan lain. Dengan hadirnya ribuan orang di Bukit Ponan dapat diberi arti bahwa seluruh keturunan Haji Batu sebetulnya tidak ada yang berani hidup dalam kondisi konflik.

            Kualitas silaturrahmi yang dihasilkan oleh masyarakt Bekat juga didukung oleh kemampuan hasil pertanian di sawah dan pemeliharaan hewan ternak serta kesadaran yang tinggi untuk menjadi manusia yang saroga (ramah tamah).

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image